Jumat, 07 Desember 2018

Pentingnya Perencanaan dalam Manajemen Pendidikan

  

A.    Pengertian Perencanaan Pendidikan
Merencanakan pada dasarnya menentukan kegiatan yang hendak dilakukan pada masa depan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengatur berbagai sumber daya agar hasil yang dicapai sesuai dengan yang diharapkan. Perencanaan adalah proses penentuan tujuan atau sasaran yang hendak dicapai dan menetapkan jalan dan sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu seefisien dan seefektif mungkin.
Menurut Prajudi Atmusudirdjo (dalam Udin, 2014:4) perencanaan adalah perhitungan dan penentuan tentang sesuatu yang akan dijalankan dalam mencapai tujuan tententu, oleh siapa, dan bagaimana. Guruge mendefinisikan (dalam Udin, 2014:8) perencanaan pendidikan sebagai proses mempersiapkan kegiatan di masa depan dalam bidang pembangunan pendidika. Definisi lain sebagaimana dikemukakan oleh Albert Waterston (dalam Udin, 2014:8) bahwa perencanaan pendidikan adalah investasi pendidikan yang dapat dijalankan dan kegiatan-kegiatan pembangunan lain yang didasarkan atas pertimbangan ekonomi dan biaya serta keuntungan sosial.
Menurut Coombs  (dalam Udin, 2014:8) bahwa perencanaan pendidikan adalah suatu penerapan yang rasional dari analisis sistematis proses perkembangan pendidikan dengan tujuan agar pendidikan untuk lebih efektif dan efisien serta sesuai dengan kebutuhan dan tujuan para peserta didik dan masyarakat. Dengan demikian, yang dimaksud dengan perencanaan pendidikan adalah keputusan yang diambil untuk melakukan tindakan selama waktu tertentu (sesuai dengan jangka waktu perencanaan) agar menyelenggarakan sistem pendidikan menjadi lebih efektif dan efisien, serta menghasilkan lulusan yang lebih bermutu dan relevan dengan kebutuhan pembangunan.

B. Sejarah Perkembangan Perencanaan Pendidikan
Sejak zaman kuno para ahli filsafat dan pendidikan sudah memiliki gagasan perencanaan pendidikan yang bersifat murni spekulatif. Xenephon pernah mengemukakan dalam konstitusi Lacerdaemonian-nya yang menunjukkan kepada orang-orang Athena, bagaimana orang-orang Sparta pada 2500 tahun yang lalu merencanakan pendidikannya yang disesuaikan dengan tujuan militer, sosial, dan ekonomi mereka. Plato dalam bukunya, Republik, membuat suatu rencana pendidikan yang dapat memenuhi kebutuhan pemimpin dan kebutuhan politik athena. Tujuan pendidikan menurut Plato adalah untuk kebahagiaan individu dan kesejateraan negara.
Pada masa dinasti Han di daratan Cina dan pada masa peradaban Inca di Peru telah dilakukan penyusunan suatu rencana pendidikan. Pada zaman Renaissance, John Knox menyusun suatu sistem pendidikan nasional yang dapat dijadikan pedoman orang Scots untuk dapat menikmati kehidupan material dan spiritual. Ketika itu Comenius telah menyusun suatu kerangka dasar organisasi sekolah yang bersifat terpusat.
Pada abad ke 18 telah ditemukan berbagai karya yang berkaitan dengan rencana pendidikan, dan yang paling terkenal yaitu perencanaan Universitas di Rusia (Plan d’une UnEversite pour le Gouvernement de Russsie) karya Diderot. Pada abad ke-19 ketika lembaga-lembaga pendidikan persekolahan mulai didirikan sudah terdapat beberapa perencanaan pembangunan sekolah dan perencanaan pendidikan guru, tetapi belum digunakan konsep perencanaan sebagaimana yang dikenal dewasa ini. Setelah perang dunia I, Rusia dalam rencana pembangunan lima tahun I (1923), merupakan negara pertama yang menerapkan konsep perencanaan pendidikan, kemudian Prancis pada tahun 1929 melalui rencana yang disusun Tardieu, Amerika Serikat pada tahun 1933, Switzerland melalui Wahlen Plan for Agriculture pada tahun 1941, dan Puerto Rico pada tahun 1942. Setelah perang dunia II, timbul berbagai pergolakan sebagai akibat meningkatnya pergolakan sosial dan ledakan penduduk yang tidak terduga. Sedangkan sumber-sumber makin langka, beberapa negara di Eropa mulai memandang bahwa perencanaan perndidikan itu penting. Sejak itu Inggris melalui Education Act tahun 1944 mulai menyelenggarakan kewajiban belajar di 146 daerah, di mana para pejabat atau administrator pendidikan diminta untuk mempersiapkan suatu perencanaan pembangunan pendidikan.
Tujuh tahun kemudian yaitu pada tahun 1951 Prancis membentuk komisi perencanaan untuk pembangunan sekolah, universitas, ilmu pengetahuan dan seni ( A Commision du Plan d’equipement Scolaire, Universtaire, Scientifique et Artistique). Selanjutnya pada tahun 1953 pendidikan merupakan bagian integral dari rencana pembangunan nasional.

C. Karakteristik Perencanaan Pendidikan

Ada dua aspek untuk menjelaskan karakteristik perencanaan pendidikan, yaitu aspek sejarah dan dinamika sosial, atau dapat dikatakan pendekatan tradisional dan modern. Secara historis, perencanaan pendidikan sebelum Perang Dunia II memiliki ciri khas, belum kompleks, dan belum melibatkan keseluruhan hidup suatu bangsa. Ciri-cirinya adalah:
1.      Mempunyai pandangan jangka pendek yang berlaku hanya sampai pada anggaran berikutnya (menggunakan sistem perencanaan tahunan).
2.      Fragmentaris, yakni bagian-bagian direncanakan secara sendiri-sendiri atau terpisah-pisah.
3.      Tidak terintegrasi dalam arti bahwa lembaga pendidikan itu direncanakan tanpa memperlihatkan kebutuhan dan keinginan masyarakat serta ekonomi pada umumnya.
4.      Tidak dinamis, model pendidikan yang statis, ciri-cirinya tidak berubah dari tahun ke tahun.
Lebih kurang selama 25 tahun (1945-1970), sistem pendidikan di seluruh dunia sangat dipengaruhi oleh adanya perubahan dalam ilmu pengetahuan, teknologi, sosial, ekonomi, dan politik. Perkembangan itu memberikan tekanan dalam masalah pendidikan yang jauh lebih berat dan semua itu harus dihadapi. Meskipun masalah-masalah tersebut telah berhasil diatasi, manajemen dan perencanaan sebagai alatnya telah terbukti sangat kurang tepat untuk era baru ini. Secara jujur pula, harus diakui bahwa ketegangan-ketegangan dan kegagalan membutuhkan bentuk perencanaan yang baru yang harus dimilikinya.
Terjadinya Perang Dunia II telah mengakibatkan kekacauan dalam sistem pendidikan di beberapa Negara, terutama Inggris, Perancis, Rusia, dan beberapa Negara di Eropa Barat. Kebanyakan Negara menginginkan kembali sistem pendidikan yang normal seperti sebelum perang. Banyak masalah yang mereka hadapi, misalnya pembangunan sekolah yang tertunda untuk mengurusi para veteran yang kembali dari perang, masalah tenaga kerja dan sumber daya manusia yang dituntut untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, serta masalah peningkatan jumlah murid yang timbul oleh faktor kependudukan. Untuk mengatasi masalah tersebut, sistem perencanaan pendidikan yang konvensional saja tidak dapat memenuhi tugas rekonstruksinya maka diperlukan perencanaan yang kompleks dan mempunyai pandangan jauh ke depan, dan mengadakan pemeriksaan yang cermat pada kondisi dan akibat-akibat ekonominya dari suatu masyarakat.
Secara dinamika social atau tinjauan kekinian, setelah melihat kelemahan ciri perencanaan pendidikan dari aspek tradisional, para ahli ekonomi Barat tidak memandang pendidikan sebagai sektor yang bersifat konsumtif dan tidak produktif yang menyerap penggunaan biaya (nilai ekonomis), tetapi memandangnya sebagai suatu investasi atau penanamn modal yang dapat membantu pertumbuhan ekonomi. Dengan menggunakan label baru ini, sektor pendidikan dapat menuntut anggaran nasional secara lebih efektif. Untuk memenuhi tuntutan ini, para pendidik dan para perencana harus memikirkan tenaga kerja, merencanakan dan menguasai penerimaan murid, kemudian menghasilkan output lulusan yang sesuai dengan pola kemasyarakatan yang telah dibenarkan oleh para ahli ekonomi dan pengambil keputusan (decision maker).
Karakteristik perencanaan pendidikan secara dinamis memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Suatu proses rasional dikarakteristikkan sebagai pengembangan yang terorganisasi dari kegiatan pembelajarn masyarakat.
2.      Menyangkut tujuan sosial, cara dan tujuan, proses dan control.
3.      Merupakan rancangan konseptual kebijakan dan tindakan dibuat oleh kelompok.
4.      Konsep dinamis yang menjamin rencana dikonstruksikan dengan lentur sehingga tidak mungkin terjadi penyimpangan.

D. Pentingnya Perencanaan dalam Pendidikan
Perencanaan adalah sasaran untuk bergerak dari keadaan masa kini kesuatu keadaan dimasa yang akan datang sebagai suatu proses yang menggambarkan kerja sama untuk mengembangkan upaya peningkatan organisasi secara menyeluruh. Perencanaan itu di buat sebelum suatu tindakan di laksanakan. Perencanaan merupakan hal yang sangat penting yang perlu di buat untuk setiap usaha dalam mencapai tujuan. Perencanaan harus di buat agar semua tindakan terarah dan terfokus pada tujuan yang akan di capai.
 Merencanakan suatu kegiatan merupakan tindak awal sebagai pengakuan bahwa  suatu pekerjaan tidak semata-mata ditentukan sendiri keberhasilannya, namun banyak faktor lain yang harus dipersiapkan untuk mendukung keberhasilannya, Allah SWT berfirman dalam surah Al-Hasyr ayat 18 yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Di sini konsep perencanaan terkandung di dalamnya sifat tawakkal sebagai refleksi dari kekuatan dari keyakinan tauhid kepada Allah. Menurut Qardhawi (1989) tawakkal kepada Allah tidak berarti mengenyampingkan segala sebab atau mengabaikan sunnah (hukum) yang diberikan Allah untuk mengatur segala yang ada. Jadi perencanaan (mempersiapkan sesuatu untuk mencapai tujuan di masa depan), menyediakan sumber daya pendukung dalam pelaksanaan, melaksanakn kegiatan dengan sebaik-baiknya, kemudian bertawakkal adalah proses perencanaan dan pelaksanaan menuju keridhaan Allah SWT. Dengan demikian dalam manajemen pendidikan hendaknya memperhatikan perencanaan, karena perencanaan merupakan awal dari segala aspek yang di lakukan dalam manajemen pendidikan, selain langkah awal perencanaan merupakan aktifitas untuk memilih berbagai alternatif tindakan yang kesemua itu bermuara kepada suatu target yang harus dicapai. Untuk membangun kerjasama yang baik dan membuat perencanaan pendidikan yang tepat sesuai kebutuhan masyarakat, maka diperlukan personel perencanaan yang berpengalaman dan berpengetahuan dalam bidang perencanaan pendidikan agar dapat menentukan dengan tepat apa yang harus di kerjakan. Perencanaan mengandung 6 pokok pikiran, yaitu:
1.      perencanaan melibatkan proses penetapan keadaan masa depan yang di inginkan.
2.      Keadaan masa depan yang di inginkan itu kemudian di bandingkan dengan keadaan sekarang, sehingga dapat dilihat kesenjangannya.
3.      Untuk menutup kesenjangan itu perlu di lakukan usaha-usaha.
4.      Usaha yang di lakukan untuk menutup kesenjangan itu dapat beranekaragam dan merupakan alternatif yang mungkin di tempuh.
5.      Pemilihan Alternatif yang paling baik dalam arti yang mempunyai efektivitas dan efisiensi yang paling tinggi perlu di lakukan.
6.      Alternatif yang di pilih harus diperinci sehingga dapat menjadi pedoman dalam pengambilan keputusan apabila akan di laksanakan. 

E. Jenis dan Jenjang Perencanaan Pendidikan
Perencanaan pendidikan terdiri dari beberapa jenis tergantung dari sisi melihatnya. Dari tinjauan cakupannya, perencanaan pendidikan ada yang bersifat nasional atau makro, ada yang bersifat daerah atau regional, ada yang bersifat local dan ada pula yang bersifat kelembagaan atau institusional. Perencanaan pendidikan pada tingkat nasional mencakup seluruh usaha pendidikan untuk mencerdaskan atau membangun bangsa termasuk seluruh jenjang, jenis dan isinya. Pembangunan sektor pedidikan di Indonesia diatur dalam perencanaan pendidikan yang bersifat nasional. Perencanaan pendidikan regional adalah perencanaan pada tingkat daerah atau provinsi yang mencakup seluruh jenis dan jenjang untuk daerah atau provinsi. Perencanaan pendidikan lokal adalah perencanaan pendidikan yang mencakup berbagai kegiatan untuk kota atau kabupaten. Perencanaan pendidikan kelembagaan adalah perencanaan pendidikan yang mencakup suatu institusi atau lembaga pendidikan. Seperti perencanaan sekolah, atau perencanaan universitas.
Ditinjau dari posisi, sifat dan karakteristik perencanaan, perencanaan pendidikan terbagi tiga jenis yaitu perencanaan pendidikan yang bersifat terpadu, komprehensif, dan strategik. Perencanaan pendidikan terpadu atau Integrated Educational Planning mengandung arti bahwa perencanaan pendidikan itu mencakup seluruh aspek esensial pembangunan pendidikan dalam pola dasar perencanaan pembangunan nasional. Perencanaan pendidikan komprehensif mengandung konsep keseluruhan yang disusun secara sistematik dan sistemik.  Seluruh aspek penting pendidikan mencakup dan disusun secara teratur dan rasional hingga membentuk satu keseluruhan yang lengkap dan sempurna. Perencanaan strategik adalah perencanaan yang mengandung pendekatan Strategic Issues yang dihadapi dalam upaya membangun pendidikan.
Ditinjau dari sisi metodologi, perencanaan pendidikan dapat disebut Rational atau Systenatic Planning, karena perencanaan ini menggunakan prinsip-prinsip dan teknik-teknik berpikir sistematis dan rasional ilmiah.
Jenis-jenis perencanaan pendidikan  menurut Fattah (2011: 54-61) yang dibagi berdasarkan:
1.      Menurut Besarannya (Magnitude)
a.       Perencanaan Makro
Perencanaan makro adalah perencanaan yang menetapkan kebijakan-kebijakan yang akan ditempuh, tujuan yang ingin dicapai dan cara-cara mencapai tujuan itu pada tingkat nasional. Tujuan yang harus dicapai negara (khususnya dalam bidang peningkatan SDM) adalah pengembangan sistem pendidikan untuk menghasilkan tenaga pembangunan baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Secara kuantitatif pendidikan harus menghasilkan tenaga yang cukup banyak sesuai dengan kebutuhan pembangunan. Sedangkan secara kualitatif harus dapat menghasilkan tenaga pembangunan yang terampil dan sesuai dengan bidangnya dan memiliki jiwa Pancasila.  
Menurut Pidarta (1988: 58) “perencanaan makro pada umumnya ditangani oleh pemerintah pusat, atau dapat juga oleh kelompok tertentu tetapi mereka ditunjuk oleh pemerintah pusat pula”. Untuk melaksanakan fungsi perencanaan makro ini, strategi pendidikan hendaknya memenuhi syarat sebagai berikut:
1.      Tujuan pendidikan nasional telah dirumuskan dengan jelas. Tujuan ini dijabarkan kembali menjadi tujuan-tujuan lebih spesifik.
2.       Pemerintah memegang peranan utama dalam pengambilan keputusan dan menciptakan mekanisme kerja yang efektif.
3.      Sumber-sumber pembiayaan harus dimobilisasikan dari sektor yang ada.
4.      Prioritas harus disusun, baik yang berkenaan dengan bentuk, tingkat dan jenis pendidikan.
5.      Alokasi biaya harus disediakan menurut prioritas yang telah ditetapkan.
6.      Penilaian yang berkesinambungan harus selalu dilaksanakan dan program direvisi berdasarkan penilaian itu.
7.      Pelaksanaan pendidikan mendapat latihan sesuai dengan tugas yang akan dikerjakannya. (dalam Fattah, 2011: 54-55)
Contoh dari perencanaan makro adalah tentang model penerimaan siswa/mahasiswa baru karena berlaku di seluruh tanah air, begitu pula perencanaan tentang kurikulum inti untuk SMA.
b.      Perencanaan Meso
Kebijaksanaan yang telah ditetapkan pada tingkat makro, kemudian dijabarkan ke dalam program-program yang berskala kecil. Pada tingkat ini perencanaan sudah lebih bersifat operasional disesuaikan dengan departemen atau unit-unit (intermediate unit). Menurut Pidarta (1988: 59) “perencanaan meso adalah perencanaan yang ruanng lingkupnya mencakup wilayah pendidikan tertentu, misalnya suatu propinsi dan dasar terjadinya perencanaan meso adalah akibat dari kondisi dan situasi daerah yang berbeda-beda”. Perencanaan meso di bidang pendidikan menengah dan dasar pada umumnya diprakarsai oleh Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di daerah bersangkutan. Sedangkan untuk perencanaan lembaga pendidikan tinggi bisa diprakarsai tiap perguruan tinggi di wilayah itu dengan mengikut sertakan semua perguruan tinggiyang ada di daerah itu.
c.       Perencanaan Mikro
Perencanaan mikro diartikan sebagai perencanaan pada tingkat institusional dan merupakan penjabaran dari perencanaan tingkat meso. Kekhususan-kekhususan dari lembaga mendapat perhatian, namun tidak boleh bertentangan dengan apa yang telah ditetapkan dalam perencanaan makro maupun meso. Contoh perencanaan mikro, yaitu kegiatan belajar mengajar.







untuk penjelasan lebih jelas kunjungi pentinya perencanaan dalam manajemen pendidikan

Senin, 03 Desember 2018

Profil Manajemen Pendidikan




Program studi/jurusan manajemen pendidikan fakultas ilmu pendidikan Universitas Negeri Gorontalo sebagai upaya untuk mengembangkan profesionalisme pengembangan pendidikan. Perkembangan program studi manajemen pendidikan dari tahun ke tahun mengalami kemajuan dalam bidang sumber daya manusia (dosen dan tenaga pendukung), kualitas dan kuantitas mahasiswa, fasilitas, iklim akademik, dan pembelajaran.\012Jurusan/Prodi Manajemen Pendidikan resmi beroperasi pada tahun ajaran 1983/1984 dengan nama Jurusan Administrasi dan Supervisi Pendidikan yang pada waktu itu masih berstatus FKIP Universitas Samratulangi Manado di Gorontalo.

Sejak keberadaannya, Jurusan Administrasi dan Supervisi Pendidikan hanya menerima empat angkatan, karena sejak ditetapkannya SK passing out yang terhitung mulai tahun 1991/1992 hingga tahun ajaran 1998/1999 tidak menerima mahasiswa. Penerimaan mahasiswa dilakukan kembali pada tahun 1999/2000 setelah pencabutan passing out dari Dirjen Dikti No. 319/DIKTI/Kep/2000 yang mengizinkan Jurusan administrasi dan Supervisi Pendidikan menerima mahasiswa yang berstatus PNS atau pegawai.\012Jurusan manajemen Pendidikan (s1) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo Jurusan/Prodi Manajemen Pendidikan telah terakreditasi A berdasarkan keputusan BAN PT029/BAN-PT/Ak-VIII/S1/XII 2010 sampai dengan tanggal 03 Desember 2015. Akreditasi ini membuktikan bahwa pihak jurusan terus melakukan langkah-langkah pengembangan untuk meningkatkan mutu layanan pembelajaran di Jurusan manajemen Pendidikan. Dari segi ketenagaan, jurusan Manajemen Pendidikan (JMP) FIP UNG saat ini memiliki dosen 16 orang sebanyak 9 orang (diantaranya 2 orang sementara S3). Selain itu, UNG memiliki sejumlah tenaga pengajar yang berkualifikasi S3 dan guru besar dalam bidang kependidikan sebagai pendukung pada Jurusan Manajemen Pendidikan.\012Perkembangan mahasiswa baik dari segi kualitas dan kuantitas terus meningkat sampai rata-rata 20%. Sampai saat ini jumlah mahasiswa keseluruhan sebanyak 425 orang.

Perkembangan ini terjadi akibat upaya-upaya jurusan untuk menjalin kerjasama dengan pihak satkeholder secara baik seperti alumni, pemerintah daerah, dan lembaga-lembaga pendidikan. Upaya pimpinan jurusan manajemen pendidikan dalam meningkatkan kualitas pengelolaan dan pendidikan terus dilakukan melalui peningkatan kualitas dan kuantitas dosen dan tenaga pendukung, tata pamong, pembelajaran, sarana dan prasarana, iklim akademik, mahasiswa dan lulusan, dan penelitian, pengabdian, kerjasama dengan berbagai stakeholder terutama pemerintah daerah propinsi, kota/kabupaten, alumni dan masyarakat luas bagi pengembangan jurusan manajemen pendidikan.

Mata Kuliah di Jurusan Manajemen Pendidikan FIP UNG




Mata Kuliah di Jurusan Manajemen Pendidikan FIP UNG
Semenster 1
1. Pancasila                                                                            
2. Bahasa Indinesia                                                                  
3. Kewirausahaan                                                                    
4. Pengantar Pendidikan
5. Belajar dan Pembealajaran
6. Psikologi Pendidikan
7. Dasar-Dasar Manjemen
8. Organisasi dan Komunikasi Pendidikan
9. Pengatar Kepengawasan

Semester 2
1. Agama
2. Kewarganegaraan
3. Perkembangan Peserta Didik
4. Inovasi Pendidikan
5. Manajemen Hubungan Sekolah dan Masyarakat
6. Manajemen Keuangan dan Pembiayaan Pendidikan
7. Manajemen SDM
8. Penulisan Karya Ilmiah
9. Praktik Kewirausahaan

Semester 3
1. Wawasan Budaya
2. Bahasa Inggris Terapan
3. Manajemen Perpustakaan
4. Manajemen Peserta Didik
5. Manajemen Sarana dan Prasarana
6. Perencanaan Pendidikan
7. Aplikasi IT Manajemen Pendidikan
8. Ekonomi Pendidikan
9. Psikologi Manajemen Pendidikan

Semester 4
1. Administrasi Pendidikan
2. Manajemen & TIK Perkantoran
3. Manajemen Kearsipan
4. Manajemen Kurikulum dan Program Pembelajaran
5. Manjemen Pendidikan Nasional
6. Mnajemen Program
7. Sistem Imformasi Manajemen
8. Supervisi Pendidikan

Semester 5
1. Kepemimpinan
2. Filsafat Manajemen Pendidikan
3. Kebijakan Pendidikan
4. Manajemen Diklat
5.  Manajemen Mutu Pendidikan
6. Penelitian Kuantitatif
7. Perencanaan Strategi Pendidikan
8. Sosiologi Pnedidikan

Semester 6
1. Inggris In Administration and Manajemen
2. Pemasaran Diklat
3. Penelitian Kualitatif
4. Pengambilan Keputusan
5. Statistika
6. Pembinaan Kompetensi Mengajar Di Sekolahdan Menengah
7. Propesionalisasi Manajemen Pendidikan
Superpisi Klinis

Semester 7
1. KKS
2. Evaluasi Program Diklat
3. Mangang/PKL Mnajemen Pendidikan
4. Seminar Persiapan Skripsi

Semester 8
1. SKRIPSI



Pentingnya Perencanaan dalam Manajemen Pendidikan

   A.     Pengertian Perencanaan Pendidikan Merencanakan pada dasarnya menentukan kegiatan yang hendak dilakukan pada masa depan. Ke...